Monday, November 16, 2009

Pemulihan Ekonomi RI Tak Bisa Lari Kencang

Dalam outlook ekonomi dunia, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2010 diprediksi hanya 4,8% dari 4% pada 2009. Sementara Jepang jauh melejit dari minus 5,1 persen pada 2009 menjadi 0,2 persen.

VIVAnews - Meski termasuk tiga negara yang masih mampu mempertahankan pertumbuhan positif saat krisis global terjadi, bukan berarti recovery atau pemulihan ekonomi Indonesia juga jauh lebih baik dibandingkan negara lain di dunia. Pemulihan ekonomi RI diprediksi bakal ketinggalan jauh.

Ketua Lembaga Penelitian Ekonomi dan Manajemen UI Chatib Basri dalam diskusi Prospek Ekonomi dan Tantangan Industri Perbankan 2010 di Hotel Sheraton, Yogyakarta, Sabtu 14 November 2009, mengatakan, dalam outlook ekonomi dunia, 2010 nanti pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi hanya 4,8 persen dari empat persen pada 2009.

Sedangkan Korea Selatan yang pertumbuhan ekonominya pada 2009 terpuruk ke angka minus 1,8 persen, tahun depan diprediksi tumbuh 2,5 persen. Sementara Jepang jauh melejit dari minus 5,1 persen pada 2009 menjadi 0,2 persen. "Perbaikan ekonomi negara-negara ini justru lebih baik, padahal saat krisis jatuh hingga minus," kata Chatib yang sebelumnya santer disebut masuk kabinet.

Salah satu faktor yang membuat pemulihan ekonomi Indonesia melambat adalah belum terintegrasinya ekonomi RI dengan ekonomi global. Kondisi ini ditunjukkan dari dampak krisis yang tidak terlalu 'menghantam' dibandingkan negara lain, sehingga pemulihannya pun diprediksi tidak akan sedrastis negara-negara lain yang begitu terpuruk saat krisis terjadi. Tercatat hanya tiga negara yang pertumbuhannya masih positif, yakni Indonesia, India (5,3 persen) dan China (8,5 persen).

Penyebab belum terintegrasinya ekonomi Indonesia dengan ekonomi global adalah produk utama ekspor Indonesia yang masih mengandalkan komoditas. Padahal pangsa pasar komoditas di dunia masih sangat kecil. "Jadi harus ada terobosan kebijakan. Indonesia harus masuk global production network," kata Chatib.

Dengan jaringan ini, Indonesia dapat lebih berperan banyak dalam ekonomi global. Chatib menyontohkan perusahaan elektronik LG dan Samsung yang sudah menerapkan sistem ini, di mana produksi dan komponennya tidak lagi diproduksi di satu negara. "Sekarang ini tidak zaman lagi satu produksi di bikin di satu negara. Contoh lain otomotif," kata Dede, panggilan Chatib.

Terkait ekspor ini, Chatib menjelaskan saat ini rasio ekspor Indonesia dibanding gross domestic product (GDP) masih 29 persen. Sedangkan Singapura sudah tercatat 240 persen, Malaysia 150 persen dan Korea Selatan 180 persen.

Kondisi ini menggambarkan efek GDP terhadap ekspor masih lebih kecil jika dibandingkan negara lain. Dengan rasio yang lebih besar, maka efek krisis global terhadap negara-negara ini juga jauh lebih dalam.

"Tapi ketika terjadi pemulihan ekonomi global, negara-negara ini juga mendapatkan efek pemulihan lebih besar dibandingkan Indonesia. Itulah yang membuat pemulihan ekonomi kita melambat," katanya.

Marwan Dalimunthe
Powered by Telkomsel BlackBerry®