Thursday, December 31, 2009

Jepang Paparkan Rencana Ekonomi Satu Dekade Kedepan

Tokyo, CyberNews. Pemerintah Jepang melalui perdana menterinya, Yukio Hatoyama, menyatakan bahwa pemerintahan yang dipimpinnya dihadapkan dengan dukungan yang mulai memudar bagi negara yang sedang berjuang untuk mempertahankan pemulihan keadaan perekonomiannya, Rabu (30/12).

Pada sebuah kesempatan, Hatoyama menguraikan sebuah rencana yang berisi langkah-langkah untuk memacu pertumbuhan ekonomi negara pada dekade berikutnya. Rencana ini bertujuan untuk pertumbuhan perekonomian negara agar dapat mencapai rata-rata 2 persen selama 10 tahun kedepan, dengan pertumbuhan produk domestik bruto hingga 650 triliun yen ($ 7 triliun) dari proyeksi pertumbuhan 473 triliun yen untuk tahun fiskal yang ada saat ini.

Kepastian rincian akhir harus sudah ditetapkan pada bulan Juni tahun depan, menjelang pemilihan nasional untuk majelis tinggi parlemen. Suara yang dipandang sebagai ujian besar bagi pemerintah baru yang berkuasa, setelah memenangkan mayoritas suara dalam majelis rendah. Namun, kemenangan tersebut tidak dibarengi dengan popularitasnya yang turun drastis sampai dua digit dalam jajak pendapat yang diadakan baru-baru ini.

"Dengan pemahaman bahwa kemampuan pemerintahan baru akan mengambil tindakan yang sedang dilihat oleh banyak kalangan saat ini, kami akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk mencapainya," kata Hatoyama.

Hatoyama juga menyebutkan, Jepang mungkin nantinya tidak tidak akan selalu bergantung pada perekonomian AS dengan meningkatkan hubungan perdagangan dengan negara-negara di Asia tetangga, dimana zona perdagangan bebas di kawasan ini telah disepakati untuk dicapai pada tahun 2020.

Paket rencana ekonomi baru yang digagas Jepang juga bertujuan untuk menciptakan pasar untuk produk-produk ramah lingkungan dan menciptakan energi yang dapat diperbarui sebesar US$ 540 miliar dengan cara menciptakan 1,4 juta lapangan pekerjaan.

Pekan lalu, Jepang mengumumkan rekor anggaran untuk tahun fiskal berikutnya sebesar US$ 1 triliun. Hal ini mencerminkan kampanye perdana menteri yang menjanjikan peningkatan pengeluaran untuk tunjangan anak dan memotong pengeluaran yang tidak perlu pada bidang pekerjaan umum.


Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!