Monday, December 14, 2009

Mengikat Nusantara dari Laut dan Antariksa

Mengikat Nusantara dari Laut dan Antariksa

Jumat, 11 Desember 2009 | 21.48 WIB


SHUTTERSTOCK⁠


KOMPAS.com - Tidak mudah menyatukan kawasan negara dengan ribuan pulau di Nusantara. Saat ini memang kabel serat optik yang diyakini efisien dan berkapasitas besar, tetapi teknologi ini tidak murah dan tidak semua pulau bisa disinggahi. Kombinasi antara serat optik dan satelit tampaknya memang tetap menjadi solusi bagi kawasan seperti Nusantara ini.

Rencana membangun jaringan Palapa Ring Timur sampai saat ini tidak kunjung terealisasi, apalagi menyusul gelombang krisis ekonomi global. Palapa Ring Timur pada intinya adalah jaringan serat optik bawah laut di kawasan timur, sebelah timur Pulau Jawa dan Sulawesi.

Dengan kondisi ini, jaringan backbone di kawasan timur itu masih mengandalkan satelit sekalipun dengan bandwidth yang jauh lebih kecil dari serat optik (fiber optic/FO). Peluncuran satelit Palapa D milik Indosat yang sukses merupakan salah satu satelit yang sekarang menjadi jembatan timur dan barat Indonesia, di samping beberapa satelit, seperti milik Telkom dan satelit milik asing.

Selain menjadi backbone telekomunikasi timur-barat, satelit memiliki fungsi yang tidak tergantikan. Boleh dibilang dengan Palapa D yang lebih bertenaga dibandingkan dengan Palapa C2 yang digantikan masih sangat bermanfaat bagi para broadcaster, selain merupakan upaya membuat tidak lagi ada blank spot di Tanah Air.

"Palapa D sekarang sudah beroperasi menggantikan C2 dan semua pengguna di C2 sudah dipindahkan ke Palapa D. Satelit C2 sebenarnya masih bisa berfungsi sampai tahun depan. Namun, secara bertahap kami geser ke posisi lain sebelum nanti akhirnya roket pendorong terakhir melepaskan ke posisi yang jauh," kata Prastowo M Wibowo, Group Head Satellite and Submarine Cable Indosat, dalam pertemuan dengan Kompas.

Palapa D saat ini sudah digunakan 10 dari 12 broadcaster Indonesia, termasuk beberapa broadcaster asing. Dikatakan sangat bertenaga karena sekarang dengan daya 70 watt sudah bisa uplink ke satelit, padahal dengan C2 seperti stasiun RCTI dibutuhkan setidaknya 180 watt.

Satelit yang ditempatkan di 113 derajat BT ini memiliki kapasitas lebih besar, dibuat Thales Alenia Space, Perancis. Dengan 40 transponder, terdiri dari 24 standard C-band, 11 extended C-band, dan 5 Ku-band. Wilayah yang dijangkau mulai dari Indonesia, negara-negara anggota ASEAN, Asia Pasifik, Timur Tengah, sampai Australia.

Jakabare

Jika di kawasan timur Indonesia Indosat lebih mengandalkan satelit, berbeda untuk kawasan barat. Di kawasan barat lebih diandalkan FO bawah laut sebagai backbone komunikasi.

Pembangunan jaringan FO yang mereka beri nama Jakabare, yang merupakan singkatan dari Jakarta, Kalimantan, Batam, dan Singapura), sempat terlambat karena adanya perubahan manajemen di perusahaan itu. Namun, akhirnya berhasil diselesaikan berbarengan dengan mulai beroperasinya Palapa D pada 28 Oktober lalu bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda.

Sistem Komunikasi Kabel Laut Jakabare sepanjang 1.300 kilometer memiliki kapasitas terpasang 160 Gbps dan kapasitas bisa diperbesar sampai 1,2 Terabps. Jaringan ini memiliki titik pendaratan di Tanjung Pakis (Karawang, Jawa Barat), Sungai Kakap (Pontianak, Kalimantan Barat), Tanjung Bemban (Batam), dan untuk Singapura pendaratannya di Changi.

Jaringan FO berfungsi sebagai redundant atau back up untuk jaringan internasional yang dimiliki Indosat. Semua jaringan FO perusahaan ini sudah menggunakan sistem ring sehingga jika ada yang putus, akan langsung diambil alih oleh jaringan FO lain.

"Termasuk satelit yang paling sedikit gangguannya dibandingkan kabel laut," kata Prastowo. Satelit bisa menjadi back up jika FO mengalami gangguan, situasi di antaranya relatif tidak ada gangguan dibandingkan dengan kabel laut yang banyak halangannya.

Sinergi dua teknologi ini tampaknya merupakan senjata ampuh untuk mengikat kawasan Nusantara yang terpisah-pisah oleh lautan. Apalagi kedua backbone ini sudah menggunakan teknologi baru yang jika dibutuhkan bisa dilipatgandakan kapasitasnya.

Selain kedua jaringan yang menunjang di belakang, mereka juga sudah memperkenalkan teknologi baru menyangkut akses konsumen ke jaringan. Mereka baru saja memperkenalkan teknologi High-Speed Packet Access plus (HSPA+) yang akan semakin mempercepat komunikasi 3,5 G mereka.

Dalam demo mereka bulan lalu berhasil dicapai kecepatan unduh (download) 21 Mbps dan unggah (upload) daya hingga 5,8 Mbps yang memungkinkan pengiriman gambar bergerak. Ini merupakan peningkatan dari teknologi HSDPA yang kecepatan unduh maksimal hanya 14,4 Mbps dan unggah hanya 1,4 Mbps.

Peningkatan ini jelas akan sangat menghemat waktu menjelajah internet dan diharapkan penyumbatan di base transceiver station (BTS) juga makin berkurang.(AW SUBARKAH/KOMPAS)
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!