Tuesday, June 14, 2011

Rupiah Tersungkur Sinyal Perlambatan Global
Ahmad Munjin

INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (13/6) ditutup melemah 21 poin (0,24%) ke level8.537/8.542 per dolar AS dari posisi akhir pekan lalu 8.516/8.519.

Analis Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan, pelemahan rupiah hari ini, salah satunya dipicu oleh masih menguatnya kekhawatiran atas krisis utang di Yunani. Menurutnya, pasar masih cemas apakah utang Yunani masih perlu direstrukturisasi atau tidak.

Pasar juga ingin memastikan, apakah peran swasta diperlukan untuk membantu Yunani sebagaimana diusulkan Jerman. Karena itu, rupiah melemah karena didorong sentimen penguatan dolar AS terhadap mata uang utama. "Rupiah mencapai level terlemahnya 8.544 dan 8.524 sebagai level terkuatnya," katanya kepadaINILAH.COM, di Jakarta, Senin (13/6).

Di sisi lain, lanjut Ariston, pelemahan rupiah juga dipicu oleh faktor global yang memberikan sinyal perlambatan ekonomi terutama AS dan China. Berdasarkan data-data yang dirilis pekan lalu, non-farm payroll angkanya di level 54 ribu, jauh lebih rendah dari prediksi.

"Begitu juga dengan data ISM Manufacturing Index AS yang angkanya di bawah ekspektasi 53,5 dari prediksi 58,1," papar Ariston.

Sementara itu, lanjutnya, dari China data Manufakturing PMI menunjukkan penurunan dari 52,9 ke level 52. Data-data tersebut memberikan sinyal perlambatan ekonomi global. "Sebab, market lebih melihat day to day. Apa yang dilihat oleh pelaku pasar saat itu, indikator itulah yang jadi acuannya," tandasnya.

Akibatnya, terjadi pengalihan risiko di pasar. Ini juga bisa dilihat bukan hanya pada mata uang rupiah, tapi juga pelemahan yang terjadi di bursa saham dan komoditas."Kelihatan ada pengalihan risisko ke dolar AS dan yen Jepang," imbuh Ariston.

Alhasil, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan menguat ke level US$1,4335 dari posisi sebelumnya US$1,4345 per euro," imbuh Ariston.



Sent from my mobile phone