Thursday, November 3, 2011

Danone prihatin Sistem transportasi

Danone Prihatin Sistem Transportasi Indonesia

Karena operasional logistik cukup rumit, suatu perusahaan biasanya memanfaatkanthird party logistics (3PL), tidak terkecuali dengan produk Aqua dari Danone. Meskipun begitu, masalah tidak sepenuhnya selesai. Sistem transportasi Indonesia dan penerapan tekonologi informasi yang kurang masih menjadi hambatan yang tidak boleh didiamkan.

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Manajer Logistik Danone Aqua, Ihwan Idamin Harahap. "Saat ini saya lihat sistem Informasi merupakan faktor yang sangat penting untuk dicermati. Technology Information jadi salah satu masalah yang menjadi kendala dalam pemenuhan target KPI (Key Performance Indicators) terutama dalam pengimplementasian Real Time Transaction antara sistem Aqua dan 3PL," ujar Ihwan.

Karena alasan kebijakan dan fasilitas di masing-masing organisasi berbeda, sinkronisasi kedua sistem masih dilakukan manual sehingga muncul delay transaksi di sistem Aqua dengan pergerakan fisik yang dilakukan dari 3PL. Hal itu menyebabkan beberapa masalah penting, diantaranya keberlangsungan produksi terhambat oleh informasi stock di sistem yang salah. Pada akhirnya, ini menyebabkan produksi berlangsung tidak efisien. Selain itu, penjadwalan dan perancanaan logistik sulit dilaksanakan secara akurat.

"Harapan kedepannya, semua pihak mampu mengutamakan semangat kolaborasi dan kordinasi antar organisasi sehingga tercipta operasional yang lebih efektif dan efisien," kata Ihwan. Selain itu dalam dunia logistik, transportasi merupakan faktor yang sangat penting untuk dicermati, terutama dalam pengimplementasian zero inventory.Lemahnya sistem transportasi di Indonesia khususnya dari segi infrastruktur menyebabkan beberapa masalah penting.

Pertama, lead time pengiriman maupun pengambilan produk dari / ke pabrik yang tinggi akan menghambat jadwal pengiriman produk. Kedua, high cost distribution karena biaya distribusi biasanya dihitung berdasarkan volume/value barang terkirim dibanding dengan realisasi biaya pengiriman. Ketiga, aturan mengenai pesanan minimum dalam jumlah besar untuk pencapaian biaya distribusi minimal. Ini mengakibatkan biaya gudang naik dan konsep zero inventory sulit diterapkan. "Selain itu, ada pula faktor keterbatasan SDM dalam dunia logistik sedikit banyak berpengaruh juga terhadap pengembangan sistem logistik yang lebih baik," kata Ihwan lagi. (Acha)