Sunday, November 6, 2011

Pengusaha lokal harus manfaatkan krisis ekonomi

Iklim ekonomi Indonesia terkena 'angin panas' masalah ekonomi Amerika Serikat dan Eropa. Meskipun begitu, bisnis lokal yang berkembang pesat menjadi alasan utama Indonesia mungkin tidak terpuruk terlalu jauh. Bahkan, pebisnis lokal seharusnya memanfaatkan kesempatan ini untuk melebarkan sayap dengan masuk ke pasar modal. Pasalnya, investor yang ogah dengan bisnis Barat kini mulai melirik negara berkembang.
Pernyataan tersebut diungkapkan Dr. Sahala Lumban Gaol, staf ahli Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bidang kebijakan publik. "Pasar modal sangat dipengaruhi kondisi ekonomi global. Saat ini, seperti kita ketahui, kondisi ekonomi Amerika Serikat dan Eropa tertimpa masalah. Defisit dana di negara maju bisa bedampak pada surplus di negara berkembang. "Perusahaan yang maju seharusnya mulai melirik dunia global agar memperoleh aliran modal, terutama dengan mengakses pasar modal. Pada dasarnya, defisit di negara maju bisa menyebabkan surplus di negara berkembang karena banyak perusahaan maju melakukan akuisisi dan menamakan saham di negara berkembang untuk mengimbangi stagnansi di negara Barat."
Beberapa negara yang sudah sukses melakukan akuisisi lintasbatas adalah Brazil, Cina dan India. Indonesia memiliki beberapa keunggulan diantaranya rasio GDP 6% hingga 7%, menjadi negara dengan laju pertumbuhan tertinggi kedua di Asia Tenggara dan peringkat sepuluh dalam lingkup Asia serta keanekaragaman produk mineral dan hayati. "Sebagai negara yang berkembang pesat, pengusaha lokal seharusnya memanfaatkan potensi ini untuk mulai masuk ke pasar modal di Indonesia maupun internasional. Apalagi, kinerja bisnis negara berkembang sangat dilirik pengusaha asing yang mencari tantangan atau 'jalur lain' dari ekonomi AS dan Eropa."
Masuk ke pasar modal, menurut Sahala, tidak hanya berbicara soal transformasi manajerial tetapi juga menunjukkan bahwa perusahaan mendukung transparansi serta berkontribusi kepada masyarakat. IPO menjadi metode privatisasi sekaligus strategi penjualan. "Ada tiga keuntungan yang diperoleh bila suatu perusahaan melakukan IPO. Pertama, perusahaan memperoleh percepatan keberadaan dana baru untuk meningkatkan kinerja. Kedua, sektor ril yang mengalami perbaikan. Ketiga, meningkatkan lapangan kerja, kualitas produk dan jasa."
Selain itu, pasar domestik, dinilai Sahala berpotensi besar untuk menukik mengingat jumlah penduduk sekitar 247 jiwa. Angka ini menjadi semacam 'petunjuk' adanya market yang besar untuk dimanfaatkan. Meskipun diakui Sahala, pemerintah memiliki banyak pekerjaan rumah seperti lingkungan, infrastruktur, penyediaan lapangan kerja dan sebagainya, seiring pertambahan jumlah penduduk. "Pertumbuhan penduduk yang pesat juga menjadi sinyal adanya kebutuhan konsumsi yang tinggi di pasar. Ini bisa menyelamatkan Indonesia dari krisis ekonomi."
Saat ini, ada 18 BUMN yang masuk ke pasar modal. BUMN yang awalnya menganggarkan belanja modal 383 triliun di awal 2011, naik menjadi 836 triliun. Ambisi ini untuk mendukung rencana pemerintah dalam menambah lapangan pekerjaan sekitar 6,6 juta di 2014. Sumber pendanaan belanja modal itu adalah internal (laba yang ditahan) serta eksternal (perbankan dan pasar modal).