Monday, March 12, 2012

Mampukah pelaku bisnis atasi gelombang permintaan

Sektor ekonomi Indonesia di 2012 tidak lagi berbicara soal isu permintaan mengingat jumlah konsumen terus bertambah. Meningkatnya permintaan tersebut terbukti dengan perkembangan indikator penjualan, tabungan, produk investasi dan lain-lain. Masalahnya, apakah Indonesia, baik pemerintah dan pelaku bisnis, sudah siap dari segi supply?

Hal tersebut diungkapkan pengamat ekonomi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia( LPEM FE-UI), Chatib Basri. Ia menyontohkan, komoditas seperti semen, pada 2011, memiliki peningkatan pertumbuhan sebesar 15%, namun Chatib masih ragu akan kapasitas perusahaan dalam memenuhi supply tersebut. Contoh lainnya adalah industri mobil dan penyediaan listrik dari PLN. Dikatakan Chatib, permintaan akan kedua hal tersebut sangatlah tinggi, namun pasokan terkadang masih mangalami hambatan. "Kemacetan di jalan menunjukkan permintaan infrastruktur lebih tinggi dibanding supply akan infrastruktur." Hal tersebut mencerminkan apa yang disebut sebagai "supply constraint" atau "kendala pasokan".

Ketidaktersediaan infrastruktur yang memadai tentunya akan menghambat pengembangan suatu sektor atau industri. Chatib menilai, saat ini pemerintah sebenarnya memiliki keinginan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan seperti infrastruktur tersebut. Terlihat dari konsep-konsep yang diajukan pemerintah, seperti Undang-Undang yang baru-baru ini disahkan mengenai pembebasan lahan, membuktikan bahwa dalam urusan konsep, pemerintah sudah sangat berusaha. Namun, yang menjadi permasalahan adalah pada proses implementasi.

"Sederhananya saja, pemerintah sebaiknya lakukan apa yang mereka bilang dan konsepkan. Kalau perlu kabinet berhenti saja, fokus dulu kepada penyediaan infrastruktur," sebut Chatib dengan sedikit bercanda. Saat ini yang dibutuhkan pemerintah bukan lagi mengenai rekomendasi kebijakan, namun pemerintah harus menjalankan kebijakan-kebijakan yang sudah ada dengan sebaik mungkin.

Dengan belum tersedianya infrastruktur yang memadai, para pelaku bisnis tidak mampu mengembangkan perusahaan atau industrinya. Tanpa adanya kesediaan lahan, bagaimana mungkin suatu perusahaan mampu membangun pabrik. Selain itu, tidak memadainya jalanan atau bahkan belum tersedianya jalan dari suatu daerah ke daerah tertentu, maka perusahaan tersebut tidak akan mampu mendistribusikan hasil produksi mereka. Begitupun dengan listrik dan lain-lain. Tidak ada yang bisa dilakukan perusahaan-perusahaan tersebut dalam memenuhi target permintaan dari konsumen. Untuk itu, Chatib mengatakan, perusahaan yang mampu lebih dulu menyiasati persoalan-persoalan tersebut, maka perusahaan tersebut memiliki potensi yang cukup besar untuk menangkap peluang-peluang bisnis di 2012. "Pelaku bisnis yang berhasil adalah pelaku yang mampu menyiasati perosalan-persoalan seperti infrastruktur tersebut," jelas pria yang akrab disapa Dede ini.

Chatib melihat saat ini ada beberapa perusahaan besar yang memiliki insiatif dalam membangun infrastrukturnya sendiri, seperti contohnya membangun pelabuhan. Namun, dikatakan Chatib, cara itu tentunya membutuhkan biaya yang cukup besar serta tidak menjamin akan bertahan dalam waktu yang lama. Selain itu, insiatif seperti itu dikhawatirkan akan memunculkan persoalan baru, salah satu contohnya adalah munculnya barang-barang atau fasilitas yang sifatnya privat atau hanya digunakan oleh perusahaan yang membangun infrastruktur tersebut. Dengan begitu, nantinya perusahaan-perusahaan kecil dan menengah dengan sendirinya akan tersingkir dari persaingan di sektor tertentu.(Acha)